Sejarah


Sejarah

Sejarah Berdirinya Sekolah Nasional Alamanda

Sekolah ini dimulai dari gagasan awal mengenai perlunya menyelenggarakan kegiatan pendidikan prasekolah yang berorientasi pada keberagaman bangsa Indonesia mulai dari suku, agama, bahasa dan budaya. Diharapkan dengan memperkenalkan perbedaan-perbedaan itu sejak dini anak-anak akan mampu menghayati imannya dan menghargai keberagaman masyarakat Indonesia.

KEBHINEKAAN BANGSA INDONESIA DALAM PARADE PAKAIAN DAERAH  DI PERINGATAN HARI KARTINI

Sekolah ini terbuka bagi seluruh siswa dan tenaga pendidik dari berbagai agama, mengutamakan toleransi sebagai output akhir dari proses pembelajaran agama dan sosial peserta didik. Oleh karena itu  pendidikan dan pengajaran agama bagi  siswa ditangani oleh guru yang sesuai dengan agamanya  masing-masing. Demikian pula dengan kegiatan peringatan Hari Raya Keagamaan dilakukan untuk seluruh agama yang diakui Pemerintah.

Asal usul Nama Alamanda

Pengertian Alamanda diambil dari Ensiklopedi Indonesia, Penerbit PT Ichtiar baru – Van Hoeve, Jakarta)

Alamanda (Lat:allamanda cathartica L.)  Tanaman perdu yang berasal dari Amerika Selatan, termasuk suku Apocynaceae. Bunganya berwarna kuning cerah, ditanam sebagai tanaman hias atau untuk pagar hidup.  Rebusan akarnya digunakan untuk obat batuk.

Adapun makna yang mendasari berdirinya sekolah ini adalah ALAM ANDA bahwa alam ini adalah milik anda, diberikan oleh sang Maha Pencipta untuk dilestarikan dan dijaga keseimbangannya oleh kita semua. Bila dikaitkan dengan dunia mendidik hendaknya mengajarkan kepada anak didik untuk mengenal alam semesta sebagai ciptaan Allah seingga anak dapat menjaga, memelihara dan mencintai lingkungan tempat tinggalnya dengan sebaik-baiknya

Syukuran atas berdirinya sekolah ini diadakan pada tanggal 5 Juni 2007 sekaligus mengawali dimulainya kegiatan sekolah pada tahun pembelajaran 2007/2008.

Dalam khotbah/homily  yang dibawakan oleh Romo Ignas Wagut OFM, dikatakan olehnya bahwa Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak ini didirikan atas prakarsa seorang umat yang terpanggil Tuhan untuk mengabdikan dirinya bagi pendidikan anak pra sekolah. Beberapa hal diingatkan oleh Romo penghayatan spiritual, jiwa dan laku seorang guru melalui  bacaan Injil Lukas ayat 10 bahwa :

  • Pertama TK merupakan keluarga kedua bagi seorang anak setelah ayah dan ibunya.  Guru di sekolah adalah pekerja-pekerja yang dikirim oleh Tuhan untuk berkarya mengabdikan dan memberikan dirinya untuk melayani anak-anak.  Anak-anak diibaratkan sebagai tuaian yang banyak.
  • Kedua, siap diutus seperti anak domba ke tengah serigala. Mungkin saja serigala itu datangnya dari sisi gelap dalam diri kita sendiri seperti perasaaan tidak tulus, kurang sabar, atau  datangnya dari luar berupa pesaing usaha, birokrasi yang berbelit dll.
  • Ketiga, janganlah membawa pundi-pundi. Ini dimaksudkan agar hidup sederhana dengan tidak berfoya-foya. Guru lebih mengutamakan tugas pelayanannya sebagai seorang pendidik bukan lebih dahulu mempertimbangkan imbalan/upah kerjanya. 
  • Keempat, jadilah duta pembawa damai sejahtera bagi orang lain.  Hendaklah  seorang guru lebih dahulu mengucapkan salam kepada anak didiknya tidak menunggu anak-anak mengucapkan lebih dahulu bagi guru.

Harapan besar sekolah ini berkembang sesuai dengan visi yang diemban oleh Yayasan Unggul Insani yaitu membentuk watak pembelajar sejati.